Pantai Sioro, Tulungagung


Berwisata di pantai Sioro, Tulungagung

Untuk berwisata ataupun sekedar main di pantai memang tempat yang cocok untuk dikunjungi. Ada hal yang unik jika kita berkunjung di pantai. Seperti suara ombak yang merdu, angin sepoi-sepoi, dan juga langit biru yang mempesona.
          Selesai ujian tengah semester satu, aku menyempatkan berlibur di salah satu pantai baru di Tulungagung. Saat melihat instagram aku membuka ada foto pantai yang bagus. Tertulis di caption-nya terletak di pantai sioro. Aku dan kedua teman ku memutuskan untuk pergi kesana.
          Kita janjian di Taman Ngadiluwih. Aku berangkat jam 6.45 am.
Aku menyempatkan membeli snack dan bensin terlebih dahulu. Sebenarnya aku tidak tahu dimana taman ngadiluwih. Aku mengirim pesan ke teman ku untuk meminta mengirimkan GPS. Setelah itu aku menemukan mereka. Kita bertiga memulai melanjutkan perjalanan ke pantai sioro. Aku mengendarai motor sendiri. Teman ku Yoga dan Rohmat berboncengan. Di tengah perjalanan kita salah jalur, dan ketika itu aku dibonceng Mamat untuk mengarahkan GPS-nya. Saat masuk di sebuah desa ternyata ada salah satu jalan yang sedang diperbaiki. Akhirnya kita melewati dirumah warga, jalan tidak semulus aspal. Lumpur kita lewati dengan hati-hati. Saat keluar dari lumpur aku meminta petujuk ke salah satu waraga sekitar. Dan jam sudah menunjukkan pukul 8.35 am.
          Kita mulai memasuki hutan dan jalan setapak yang hanya bisa dilewati satu motor saja. Jika ada motor di jalan tersebut berlawan arah, harus ada satu motor yang mengalah untuk minggir sejenak. Aku, yoga, Mamat sudah memiliki perasaan yang tidak enak. Dikarenakan jalan setapak yang kirinya sudah sedikit memasuki jurang, kita mengendari motor dengan hati-hati. Jalan tidak seindah pantai popoh.


Kita harus berjuang dengan jalan yang naik turun. Ada kala aku harus turun dari motor karena motor tidak kuat. Memang kita salah membawa motor matic, harusnya kita membawa motor manual yang kuat untuk menanjaki jalan seperti ini.  Kita berhenti sejenak di tengah perjalan saming tulisan “BUKIT TERPESONA”.

Terlihat masih banyak bukit yang harus kita lewati. Dan iya, jalan sama seperti sebelumnya, malah sepertinya lebih parah.
          Selesai beristirahat, kita melanjutkan perjalanan. Dan bernar jalan lebih parah dan mengerikan. Berkali kali aku turun dari motor karena Mamat dan motor-nya tidak kuat. Ini lebih parah, mendekati pantai jalan tidak lagi setapak tetapi tanah yang belum rata. Herannya masih banyak pertani yang bercocok tanam, tetapi jalannya  masih banyak buruk. Pukul 9.09 am, kita sudah melihat pantai. Sayangnya tidak ada jalan yang bisa kita lewati. Mamat berpikir kalo kita salah jalan. Setelah aku melihat lagi, kita tidak salah jalan. Kita harus turun bukit untuk menuju ke pantai, dan motor kita tinggal diatas bukit.
Jalan tidak mulus seperti di film-film. Banyak tanah yang bisa saja membuat kita terjatuh. Akhirnya kita berjalan dengan sangat hati-hati. Walaupun begitu aku masih saja terpeleset, dan mencari tanah yang bisa aku pegang. Selelah berhati-hati akhirnya kita sampai di pantai sioro.
          Aku merasa kalo aku sedang mengunjungi pantai pribadi. Bagaimana tidak, hanya kita bertiga yang mengunjungi pantai ini. Dan untuk masuk kita tidak perlu mengeluarkan uang. Tak ada lagi wisatawan yang datang. Hanya ada satu nelayan yang mencari ikan. Aku main dengan ikan-ikan kecil dipinggir pantai. Sedangkan teman ku sibuk mencari spot yang bagus untuk berfoto. Tak hanya ikan, ternya masih banyak makhluk laut yang hidup dipinggir laut.
Aku menemukan bintang laut kecil, babi laut, keong, kepiting kecil, dan ada jenis yang tidak aku ketahui.
          Suasana pantai sioro sangat pas untuk menghilangkan penat setelah ujian. Deburan ombak yang tenang, angin semilir dan pasir yang putih sangat membuat suasana nyaman melupakan bagaimana cara menemukan pantai ini. Terdapat pula pohon rindang untuk beristirahat dan mengobrol santai dengan kedua temanku. Tak ada sampah yang menghiasi pantai ini. Terlihat pula banyak perahu ditengah laut. Batu karang yang bertaburan
menambah keindaan yang disuguhkan di pantai Sioro.
                   Pukul 11.25 am temanku yoga mengajak pulang karena dia akan menjemput kakaknya di Stasiun. Dipikiran ku aku sudah membayangkan perjuangan yang akan kita lewati. Tetapi mau tidak mau kita harus pulang meninggalkan pantai ini. Mamat mencari kayu sebagai alat untuk menahan diri dari tanah. Panas sangat menyengat  dan Matahari sudah diatas kepala.  Saat akan naik ke bukit ada seorang petani, dan kita menyampaikan salam “monggo” kepada beliau. Mamat bertanya kepada petani itu apa benar ini pantai sioro?”. Pak tani menjawab dengan jawabkan mengejutkan. Ternyata pantai yang kita kunjungi adalah Pantai Godeg. Sedangkan pantai sioro terletah disamping pantai godeg.
Kita menagbaikan jawabannya dan melanjutkan perjalanan pulang. Tapi setelah mendaki dari bukit kita menyempatkan untuk meminum air putih.
          Aku sudah takut bagaimana cara saat kita akan melewati jalanan pulang. Aku hanya berdiam dan berdoa semoga tidak terjadi apa-apa. Aku berpegangan di belakang motor, Mamat sangat berhati-hati mengedarai motor dan pastinya fokus. Saat akan menaiki motor motor yang dikendarai Mamat tidak kuat dan kita terjatuh diatas tanah. Kaca spion motor pun copot dan baju sudah kotor penuh tanah. Tercium bau gosong di mesin motor Mamat. ternyata mesinnya kepanasan dan kita memutuskan berhenti sejenak. Saat meulai perjalanan tiba-tiba motornya mati. Kembali berhedti ditengah-tengah bukit dijalanan yang sepi.
Dari kejauhan ada du sejoli yang akan pergi ke pantai sioro juga. Yoga mengecek mesin dan Mamat membetulkan kaca spionnya. Setelah itu kita memustuskan mendinginkan motor di atas bukit mempesina yang lebih dingin. Jalan yang menanjak aku kembali berjalan, tetapi kaki ku tidak kuat. Aku membujuk Yoga agar aku mengendarai motorku sendiri. Teryata motor ku berat dan jalan sangat menanjak. Dengan terpaksa aku berjalan kaki menaiki bukit. Sambil mengotak atik mesin, yoga memberi air agar mesin tidak teralu panas. Sekitar 15 menit kita beristirahat di dekat bukit mempesona, kita kembali melanjutkan pejalanan pulang. Setelah bebas dari jalan setapak aku mengendarai motorku sendiri dan mencari makan siang. Aku memustuskan berhenti di salah satu tempat makan yang ramai di Tulungagung.
          Setelah kejadian yang sudah aku lewati di perjalanan pantai sioro, aku sedikit takut jika ingin kembali kesana.
Pantai yang bagus dan indah seperti itu seharusnya mendapatkan perhatian dari pemerintah sehingga jika ada wisatawan yang ingin berlibur disana tidak kesulitan untuk menuju ke pantai.




Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

the benefits of avocados for the face

the benefits of rose water for the face

the benefits of ice cubes for the face